Kamis, 19 Maret 2015

Cara Memainkan Kacapi Sunda

Teknik Bermain Kacapi Dengan Baik

Teknik Bermain Kacapi Dengan Baik - Salah satu alat musik yang hampir mirip  sedikit dengan piano, yang membedakan adalah cara memainkannya. kalau piano mungkin sudah cukup menjadi alat musik yang sangat populer cara memainkannya yanitu dengan di tekan. dan julukan nadanya DO, RE, MI..... sedangkankan kecapi cara meminkannya dengan cara dipetik, julukan nadanya MI, DA, NA...... selanjutnya mari kita simak apa itu pengertian kecapi.
Kacapi adalah salah satu alat musik tradisional sunda yang dimainkan secara dipetik(jari tangan kanan) dan atau di toel(jari tangan kiri). Yang saya tahu di Sunda ini kacapi ada beberapa macam diantaranya :
Kacapi Kawih/Sitter : Kacapi yang digunakan untuk mengiringi lagu lagu kawih. Tapi sekarang kacapi sitter ini juga banyak digunakan untuk mengiringi lagu lagu pop sunda maupun pop Indonesia dengan setelan nada diatonis. Kacapi ini pada umumnya terdiri dari 20 kawat/senar.
Kacapi Indung/Parahu/Gelung : Kacapi yang di gunakan untuk mengiringi lagu lagu tembang sunda cianjuran. Seperti namanya, kacapi ini berbentuk menyerupai perahu. Kacapi ini terdiri dari 18 kawat/senar.
Kacapi Rincik/Anak : Kacapi yang merupakan anak dari kacapi indung yang bentuknya lebih kecil. Kacapi ini terdiri dari 15 kawat/senar.
Kacapi Jentreng : Kacapi jentreng bentuknya hampir sama dengan kacapi rincik. Kacapi ini memiliki 7 buah kawat/senar.
..::BAGAN KACAPI::..
Kacapi Sitter/Kawih tampak atas
Ilustrasi Gambar1, Kacapi
Kacapi Sitter tampak bawah
Ilustrasi Gambar2, Kacapi
.::LETAK NADA::..
Ilustrasi Gambar3, Kacapi
ket : Gembyang : dari nada da-da , mi-mi, na-na dst.... (mirip dengan oktaf)
..::POSISI JARI::..
Jika Kalian telah mengenal sedikit tentang kacapi, sekarang mari kita langsung pada penjarian.
Untuk jari tangan kanan, kacapi dipetik oleh jari telunjuk dengan posisi di tekuk, ibu jari biasakan tidak menempel pada jari telunjuk, dan 3 jari yang lain tegak lurus kedepan tapi usahakan jangan tegang(santai/rilex). Pertama belajar memetik kacapi memang rasanya agak sakit, apalagi yang tidak punya kuku panjang.
Ilustrasi Gambar4, Kacapi
Ilustrasi Gambar5, Kacapi
Coba petikan jari telunjuk anda pada kawat kacapi paling bawah sampai pada kawat/senar 5, dan terus bulak balik ke atas ke bawah untuk melemaskan jari anda dan membiasakan jari tangan anda .
Untuk jari tangan yang kiri dimainkan secara di toel dengan menggunakan jari telunjuk.
Ilustrasi Gambar6, Kacapi
Coba mainkan dari kawat ke 6 dari bawah sampai kawat 11 , dan lakukan terus secara berulang.
Jika keduanya sudah bisa, sekarang coba mainkan secara bersamaan dengan jarak satu gembyang(mirip dengan oktaf). Misalnya tangan kanan main pada nada 1 kawat 1(gembyang petit), sedangkan tangan kiri main pada nada 1kawat 6 (gembyang tengah) .
lakukan seperti pada latihan tangan kanan/kiri diatas .!
SELAMAT MENCOBA !!

Rabu, 18 Maret 2015

Pengetahuan Karawitan Dasar Cara Menabuh Gamelan Yang Baik & Benar


PENGERTIAN

Karawitan adalah seni musik tradisional Jawadengan peralatan yang lengkap dan telah berkembang secara turun-temurun sesuai dengan perkembangan jaman dan tidak meninggalkan keasliannya.
Perangkat peralatan musik tradisional itu disebut Gamelan, yang terdiri dari bermacam-macam alat atau ricikan.SEJARAH KARAWITANKarawitan dikenal sejak jaman Kalingga, pada jaman raja Syailendra. Tentu saja peralatannya (ricikan) masih sangat sederhana. Intonasi nada yang ada masih sederhana pula. Sejak jaman Syailendra itulah dikenal alat musik tradisional (gamelan), yang sampai sekarang dikenal dengan gamelan Slendro, dalam satu oktaf dibagi 5 nada, yaitu : 1,  2,  3,  5,  6.Pada jaman Majapahit, seni karawitan telah berkembang dengan baik, walaupun peralatannya masih sangat sederhana. Gamelan berlaras Slendro telah dikembangkan pula dengan gamelan laras Pelog, yang dalam satu oktaf dibagi 7 nada, yaitu : 1, 2, 3, 4,  5, 6, 7.
Pada jaman Mataram, dua jenis gamelan yang masih sangat sederhana tersebut mulai dilengkapi dengan alat (ricikan) baru sebagai penunjangnya, sehingga ricikan lebih banyak dan lengkap seperti yang ada sekarang ini.
Pada jaman Mataram ini pula, dua jenis gamelan tersebut (Pelog dan Slendro), disatukan menjadi satu satuan musik yang saling berkaitan dan saling melengkapi. Pada jaman dahulu Karawitan hanya tumbuh dan dikembangkan di dalam lingkungan keraton. Bahkan para bangsawan dan kerabat Keraton boleh dikatakan wajib menguasai bidang Karawitan, Tembang dan Tari.
Bagi masyarakat luas yang tinggal di luar keraton tidak dapat mempelajari Karawitan dengan metoda menabuh Gamelan yang baik dan benar. Dengan semangat yang tinggi, mereka belajar sendiri sesuai dengan suara Gamelan yang pernah didengarnya dari dalam Keraton. Karawitan yang tidak memakai metode menabuh yang baik dan benar ini, disebut Karawitan Alam. Pada jaman sekarang, Keraton bukanlah satu-satunya sumber pengembangan seni karawitan. Untuk mengembangkan seni karawitan, telah banyak didirikan pendidikan formal seperti PMKT, STSI yang memberikan pedoman dan Metoda Karawitan yang baik dan benar.
Pengembangan seni karawitan dapat pula dilakukan melalui Radio, TV dan media elektronik lainnya. Disamping itu telah banyak pula kelompok-kelompok Karawitan yang telah mampu mengembangkan karawitan dengan baik dan benar. Oleh karena itu sangatlah disayangkan kalau masih ada Karawitan Alam yang tidak mau mengikuti metode menabuh gamelan yang benar.
Pada jaman serba modern sekarang ini, banyak yang ingin mengambangkan Musik Gamelan (diatonis) dengan musik pentatonis. Namun perpaduan dua jenis musik tersebut masih bersifat kreatif saja, belum dapat dijadikan suatu musik baru, karena keduanya tidak dapat difungsikan mutlak secara bersama-sama.
JENIS PERALATAN GAMELAN
Jika ditinjau dari sumber bunyi, pada umumnya peralatan (ricikan) gamelan terdiri dari bermacam-macam jenis. Pada umumnya gamelan terdiri dari alat musik pukul, yaitu : bonang barung, bonang, penerus, slenthem, demung, saron, peking, gender barung, gender, penerus, gambang, kempul/ gong, kenong dan kendang. Tetapi ada juga jenis alat musik lain, misalnya : alat musik tiup (suling), alat musik gesek (rebab), alat musik petik (siter).
ETIKA KARAWITAN
Karawitan merupakan seni musik yang adi luhung. Dapat disajikan dalam nuansa gembira, sedih, jenaka, marah, bahkan dapat disajikan secara khusus pada acara sakral dalam kegiatan ritual. Oleh karena itu penampilan dalam penyajian Karawitan perlu diperhatikan pula etika dan tata krama yang berlaku. Pada penyajian karawitan, para penabuh tidak dibenarkan menabuh sesuka hati, tanpa metoda maupun posisi menabuh yang tidak semestnya.
Pada penyajian Karawitan, para penabuh harus berpedoman pada metode Karawitan dan cara menabuh Gamelan yang berlaku secara umum.
Etika Penyajian Karawitan dan cara menabuh gamelan yang baik adalah sebagai berikut  :
1. Waktu akan masuk dan keluar tempat gamelan, tidak diperkenankan melangkahi ricikan.
2. Menabuh ricikan dengan cara/teori yang benar.
3. Menabuh dengan bersikap tenang, posisi duduk bersila, menghadap ke ricikan yang sedang ditabuh.
4. Pada saat menabuh tidak boleh sambil merokok atau makan.
5. Tidak berpindah tempat pada waktu menabuh gemelan.
6. Pada saat menabuh tidak diperkenankan sambil bercakap-cakap dengan orang diluar tempat Karawitan.
BENTUK LAGU DALAM KARAWITAN
Lagu yang biasa disajikan dalam Karawitan terbagi menjadi beberapa bentuk lagu yaitu  :
1. Lancaran >>> lancaran mlampah >>> lancaran tiban
2. Ketawang
3. Ladrang
4. Gending >>> ketawang gending >>> gending ageng
5. Jineman (tenang)
6. Srepegan (marah)
LARAS DALAM GAMELAN JAWA
Laras merupakan satu satuan jenis nada dalam Gamelan pada Gamelan Jawa ini mempunyai 2 (dua) macam laras yang berlainan, yaitu laras Slendro dan laras Pelog.
Laras Slendro setiap oktaf dibagi menjadi 5 nada, yaitu 1, 2, 3, 5, 6, sedangkan laras Pelog dibagi menjadi 7 nada, yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7. Pada satu unit Gamelan bisa hanya berlaras Slendro atau berlaras Pelog saja. Tetapi pada Gamelan yang lengkap tersedia Gamelan berlaras Slendro dan Pelog. Karena Gamelan laras Slendro tidak sama dengan yang berlaras Pelog, maka agar kedua laras tersebut dapat digunakan sebagai satu satuan musik yang saling melengkapi, maka salah satu nadanya dibuat sma. Misalnya 6 slendro dibuat sama dengan 6 pelog. Pada perangkat, Gamelan seperti ini disebut Gamelan tumbuk 6. Ada pula Gamelan yang dibuat dengan tumbuk 5, tetapi yang umum dipakai sekarang adalah tumbuk 6. Sebagai contoh perbandingan nada dalam laras pada gamelan seperti tergambarkan pada skema di bawah ini.
PATHET DALAM SUATU LAGU KARAWITAN
Pathet adalah tingkatan tangga nada (tinggi-rendahnya) suatu lagu dalam Seni Karawitan. Pada lagu berlaras Slendro, pada umumnya dibagi menjadi 3 Pathet, yaitu Pathet 6, Pathet 9, Pathet Manyura. Pada lagu laras Slendro yang bernada Minir, biasanya disebut Barang Miring. Namun untuk Karawitan gaya Jawa Timuran, ada kalanya mempunyai Pathet 8, Pathet 10 dsb. Sedangkan lagu berlaras Pelog, pada umumnya dibagi menjadi 3 Pathet, yaitu Pathet 6, Pathet 5, Patet Barang. Sebagai gambaran perbandingan tinggi intonasi nada dalam suatu Pathet pada lagu, seperti tergambarkan pada skema di bawah ini.

mengenal Kendang Sunda

Bahan

Bahan yang baik untuk membuat gendang biasanya kayu nangka . Tapi ada juga menggunakan pohon buah , kembang sepatu , dan kelapa . Kaina dicopongan dan diberi seuweu di BEM lebih besar dari ukuran kempyang . Tutup drum biasanya menggunakan kulit sapi , tetapi ada juga mengenakan kulit kambing kulit atau Buffalo . Kurawet atau tali drum yang biasanya juga memakai kulit, tetapi ada juga menggunakan tambang atau kawat . Nada Drum kurawetnna lebih palengpangna drum yang berbeda Java. Bahan untuk dukungan gendang atau spool yang terbuat dari kayu atau besi . Kurawet agar sesuai dengan kain yang lembut. Drum biasanya dicat hitam atau merah , disirlak coklat , atau dipernis .

Ukuran

Drum panjang sekitar 60-70 cm. Besar bagian berdiameter sekitar 20 cm bem, 25 cm di tengah, dan selesai 15 cm. Tapi juga dapat dibuat dari yang ukuran besar atau lebih kecil. Drum drum lebih besar komedi biasanya untuk bass atau drum yang . Sementara lebih kecil dan pondok untuk katipung yang dijejerken bagian lengket bem. Katipung terdekat kempyang untuk panepak.

Dia

Sementara berterima kasih ada Jaipong gendang, gendang Batu , gendang tongkat , katipung , panepak , dan Katibung bahwa untuk gendrum . Biasanya nomor Drum saparangkat satu drum dan dua katipung. Tapi ada juga drum kit yang banyak angka yang lebih tua dan lengkap dana . Misalnya Jaipongan Drum, Drum biasanya dua dan enam katipungna.

Nabeuhna

Bagaimana nabeuh Drum biasanya menggunakan panabeuh atau satu-satunya tangan kiri di bem, katipung, Katibung, dan gendang jidur. Tangan kanan tunggal untuk nabeuh selesai dengan panepak. Drum Tatabeuh biasanya terbuat dari kayu seperti tatabeuh gendang tetapi lebih kecil dan akhirnya menggunakan karet bundar. Tapi ada juga membentuk tatabeuhna dari cempurit atau serat. Bagaimana nabeuh Drum menggunakan tatabeuh biasanya menampar pada drum Jaipongan, wayang golek, dan terutama untuk menampar gendrum .

TARAWANGSA


*   TARAWANGSA
*    Tarawangsa bisa juga diartikan sebagai Nerawang ke Yang Esa.
*  Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Istilah "Tarawangsa" sendiri memiliki dua pengertian: (1) alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi dan (2) nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda.
*      Tarawangsa memiliki dua pengertian. Pertama, sebagai alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi. Kedua, merupakan nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda. Tarawangsa merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan sebuah alat petik tujuh dawai yang menyerupai kacapi, yang disebut jentreng.Tarawangsa punya dua kawat sebagai perlambang Sang Pencipta selalu menciptakan makhluk berpasang-pasangan.Sedangkan jentreng berdawai tujuh. Bila seluruh digabung jumlahnyasembilan sama dengan jumlah wali penyebar Islam di tanah Jawa.
*      Sampai saat ini, kedua alat kesenian tersebut dijadikan simbol ucapan syukur kepada sang gaib atas keberhasilan utusan membawa bibit padi tersebut. Masyarakat rancakalong memainkan kedua alam musik tersebut disertai tarian,sesajen untuk menghormati dewi kesuburan, Dewi Sri (Nyi Pohaci). Jadi Nyi Pohaci adalah berkah hidup masyarakat Sunda. Dari kematiannya tumbuh kehidupan yang membawa berkah pada umat manusia. Tanpa Nyi Pohaci, masyarakat Sunda tidak memperoleh sumber kehidupannya. Itulah sebabnya masyarakat Sunda di zaman pertaniannya, amat menghormati Nyi Pohaci. Agar sang dewi tetap ada dan menjaga kesuburan dan kehidupan masyarakat Rancakalong dalam setiap panen padi melakukan ritual ngalaksa,yakni ungkapan rasa syukur pada Yang Maha Esa atas hasil panen yang telah diperoleh. Dalam upacara tersebut digelar kesenian tarawangsa sebagai media penghubung antara alam mahkluk halus dengan alam manusia. Musik ritual tarawangsa mengantarkan masyarakat pendukungnya (orang-orang yang menari) pada keadaan alam bawah sadar hinggatrance (tak sadarkan diri).
*      Musik yang dialunkan seakan membawa penari ke dalam ruang sakral yang tidak kasat mata. Keyakinan bahwa sesembahan mereka telah diterima oleh sang gaib ketiak panri-penari sudah bersatu dengan ruh yang tampak dari fenomena tak sadarkan diri. Penghormatan akan konsep ruh tidak dapat kita lepaskan dari kepercayaan animisme yang sampai sekarang masih dianut di berbagai daerah. Kepercayaan animisme (dari bahasa Latinanima atau "roh") adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animisme mempercayai bahawa setiap benda di Bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, pokok atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharianmereka.Masyarakat Rancakalong menganggap ruh/gaib dengan duniamanusia merupakan satu kesatuan dalam irama kosmik yang teratur.
*      Dalam masyarakat sunda, praktik-praktik sinkretis dan mistik memang masih mewarnai kehidupan masyarakatnya. Kehidupan suku sunda ditujukan untuk memelihara keseimbangan alam semesta. Keseimbangan magis dipertahankan dengan upacara adat. Sedangkan keseimbangan sosial dipelihara melalui saling memberi (gotong royong). Sehubungan dengan hal itu pula bahwa orang Sunda menganggap bahwa dunia ini dipandang sebagai kesatuan kosmis yang artinya setiap unsur yang ada di dunia ini saling berhubungan. Oleh sebab itu pada masyarakat Sunda hal-hal yang religius selalu bertalian dengan upacara- upacara ritual (dengan hal-hal yang bersifat suci) atau berhubungan dengan super natural (hal-hal yang di luar kemampuan akal pikiran manusia). Karena itulah banyak sekali pamali, cadu, buyut, ialah larangan-Iarangan yang diwariskan turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, yang bila dilanggar tidak hanya membawa akibat bahkan malapetaka bagi pelanggarnya, tetapi bagi seluruh masyarakat dimana ia tinggal (Hidding: 1935).
*      Pemain Tarawangsa hanya terdiri dari dua orang, yaitu satu orang pemain Tarawangsa dan satu orang pemain Jentreng. Semua pemain Tarawangsa terdiri dari laki-laki, dengan usia rata-rata 35 – 60 tahunan. Mereka semuanya adalah petani, dan biasanya disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya dalamnga la ks a , yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Dalam pertunjukannya ini biasanya melibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menari secara teratur. Mula-mulaSaehu/Saman (laki-laki), disusul para penari perempuan. Mereka bertugasngalungsurkeun (menurunkan) Dewi Sri dan para leluhur. Kemudianhadirin yang ada di sekitar tempat pertunjukan juga ikut menari. Musik ritual dan tarian yang disesuaikan dengan alunan musik menjadi media penghubung untuk menghadirkan sang gaib dalam upacara itu.
*      http://tag.admeld.com/match?admeld_adprovider_id=338&external_user_id=C3D0C0AD18BDD54EFD4DDD8F021FCF0DDalam makalahnya tentang kesenian Tarawangsa, Aji Permana menggambarkan bahwa musik ritual dihubungkan dengan sesuatu yang berkaitan dengan upacara keagamaan atau kepercayaan yang diyakini oleh sekelompok orang atau masyarakat dalam rangka penyembahan dan penghormatan terhadap yang gaib. Dalam hal ini musik digunakan sebagai mediatra ns ceiver menuju alam yang dihuni oleh makhluk halus. Adanya ruang sakral (suci, keramat) yang dibentuk oleh keyakinan yang dianut masyarakat, dan dengan musik manusia mengalami keterbukaan rohani melakukan penyesuaian dengan alam. Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan menyebutnya sebagai manusia yangtranscendental (berdasarkan kerohanian), artinya manusia tidak terkurung (imanen) pada kehidupan dirinya, melainkan luruh terhadap kehendak alam. Pada dasarnya musik sakral untuk prosesi ritus dipengaruhi oleh keyakinan yang dianut oleh masyarakat pendukungnya. Musik sakral dapat digunakan sesuai dengan keinginan masyarakatnya, salah satunya musik yang dianggap keramat dapat digunakan untuk pengusir ruh jahat yang dapat memudarkan keteraturan yang sudah dijalin antara alam manusia dan alam gaib atau antara manusia dengan alam semesta. Selain sebagai media upacara syukur terhadap hasil bumi, keselamatan, dsb, musik ritual yang dinggap keramat itu dapat menimbulkan ketentraman batin yang meyakininya. Esensinya musik ritual yang sakral mempengaruhi emosi manusia, hingga menimbulkan kehalusan budi yang mendengarkannya.
*       
*      Ritual dari bumi Rancakalong membawa pesan-pesan dalam hubungan manusia dengan alam. Penghormatan kepada sesatu yang gaib menyiratkan pesan bahwa ada keseimbangan alam semesta harus dijaga. Ucapan syukur atas hasil panen menggambarkan,kita sebagai mahluk hidup tidak boleh lupa akan kehadiran Yang Maha Esa dalam setiap apa yang kita peroleh. Manifestasi ucapan syukur memang tergantung nilai- nilai yang hidup dalam masyarakat, dan masyarakat Rancakalong bukanlah orang-orang yang lupa akan bersyukur,bukanlah manusia- manusia yang antroposentis atau menganut paham cartesian yang menempatkan manusia (akal) di atas segala-galanya.

Cara Membuat Suling

Cara Membuat Suling dari Bambu

Cara Membuat Suling dari Bambu - Suling atau juga biasa disebut seruling adalah merupakan alat musik yang terbuat dari bambu buluh. Suling ada dua macam yaitu suling Indonesia dengan noot do, re mi dan seterusnya dan suling Sunda dengan noot da, mi, na dan seterusnya. Yang akan diuraikan di sini bukanlah cara meniup atau mengatur nadanya tapi akan diuraikan secara singkat cara membuatnya. Adapun cara meniupnya akan diketahui kemudian dari pengalaman masing-masing. Sekarang marilah belajar cara membuat seruling bambu.
Suling Bambu
Suling Bambu
Untuk membuat suling bambu, sediakan alat dan bahan berikut ini:

Bahan:
  • bambu buluh panjangnya 30 cm dengan garis tengah ±3cm
  • penyumbat (kayu gabus) atau apa saja.
Alat:
  • pisau lipat yang tajam
  • buluh yang lebih kecil untuk melicinkan lubangnya
  • sedikit tempurung
Cara membuatnya:

Buluh yang panjangnya 30 cm dibagi dua dengan sebuah titik. Mulai dari tengah buatlah lubang ke arah kanan dengan garis tengah kira-kira 1/2 cm. Antara lubang yang satu dengan yang lainnya jaraknya selebar telunjuk atau kira-kira 1,5 cm. Buatlah sebanyak 6 buah dengan jarak yang sama. Sewaktu membuat lubang harus hati-hati dan pergunakanlah pisau yang tajam. Di sebelah kiri dari lubang yang paling tengah, buatlah sebuah lubang lagi yang agak besar untuk meniup. 
Cara Membuat Suling dari Bambu
Sketsa suling bambu
Pada ujung sebelah kiri sumbatlah dengan kayu gabus atau hati dahan nipah. Maksudnya agar waktu ditiup udara tidak keluar ke sebelah kiri dan terdengarlah suara suling itu. Kalau lubang-lubang itu belum halus, maka gereklah dengan buluh penggerek sehingga menjadi bulat dan licin. Suaranya pun tentu akan halus dan merdu.
Sekian uraian tentang Cara Membuat Suling dari Bambu, semoga bermanfaat. 

SULING

suling Sunda

Kacapi suling dan
Di wilayah Sunda, suling yang digunakan sebagai

Tuning

Sulings dapat memiliki 4 lubang atau 6 lubang. The suling Sunda 6-bersembunyi bisa bermain setidaknya tiga skala yang berbeda.
  • Pelog Degung : da mi na ti la da [1 2 3 4 5 1],
    hampir sesuai untuk melakukan si sol fa mi lakukan [1 '7 5 4 3 1] dalam skala diatonis Barat.
  • Madenda atau Sorog: da mi na ti la da [1 2 3 4 5 1],
    hampir mirip dengan fa mi do si la fa [4 '3' 1 '7 6 4] dalam skala diatonis Barat.
  • Salendro : da mi na ti la da [1 2 3 4 5 1],
    hampir mirip dengan kembali melakukan la sol fa re [2 '1' 6 5 4 2] dalam skala diatonis Barat.
  • Mandalungan: skala jarang digunakan
Gambar berikut menunjukkan jari untuk suling Sunda enam bersembunyi.
Fingering suling.png
Dan di bawah ini adalah contoh tampilan 'lebih realistis' jari posisi untuk skala degung pelog.
Fingering suling.jpg

Terkenal pemain suling Sunda

  • Endang Sukandar, [4] [5] 1996 Pemenang 2 dari International Festival of Instrumen Angin di Seoul, Korea Selatan
  • Burhan Sukarma
  • UKING Sukri
  • Bang Saat (pemain tambahan dari Dewa Budjana, Dia cames dari kalimantan) Dia juga disebut sebagai "saat"
The Suling dapat berbagai ukuran

SULING

Memainkan suling

Ada dua faktor yang mempengaruhi nada suling baik itu:
  1. Posisi jari.
  2. Kecepatan aliran udara ditiup oleh mulut.
Posisi jari mengubah panjang gelombang resonansi suara di dalam tubuh suling itu. Tergantung pada jarak lubang terdekat ke kepala suling itu, berbeda catatan dapat diproduksi. Kecepatan aliran udara juga dapat memodifikasi frekuensi nada itu. Sebuah catatan dengan frekuensi dua kali dapat diproduksi kebanyakan oleh meniup udara ke dalam lubang suling itu kepala dengan kecepatan dua kali.
Dalam musik Bali suling merupakan instrumen penting dan tampaknya menjadi mirip dengan bentuk lain dari suling Jawa. Cara dimainkan, namun yang membedakannya dari bentuk-bentuk suling Indonesia. Yaitu, perlu bagi para pemain untuk menggunakan teknik pernapasan melingkar untuk menciptakan rasa yang sangat tegang keteguhan yang terus bahkan pada saat-saat klimaks yang dramatis oleh instrumen gamelan perkusi.

Efek khusus

  • Cercaan, secara dinamis mengubah catatan dari satu posisi ke posisi lain nada tanpa berhenti aliran udara. Misalnya, mengubah 5-4, 4-5, 2-1 dll
  • Puruluk, (istilah Sunda) adalah efek yang dihasilkan oleh-berulang-cepat membuka-dan-menutup lubang suling oleh satu atau lebih jari. Suara yang dihasilkan mirip dengan suara merpati. The puruluk termudah dapat diproduksi dengan membuka dan menutup pertengahan jari seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut:
Puruluk.png
  • Dalam teknik Sunda, ada efek yang dikenal lainnya seperti wiwiw, keleter, lelol, gebos, petit, jengkat, dan betrik.